51 MODUL ESEI FOKUS SEMESTER 3, 2019 SALMIAH RAMLI (rasahati) 9 Penyakit berjangkit Penyakit haiwan ternakan seperti penyakit kuku dan mulut. meningkat disebabkan penyeludupan haiwan ternakan. Pemeriksaan kesihatan dan jaminan bebas penyakit tidak dapat. dilakukan. 10 Barangan tidak bermutu Barangan tiruan.
1PENGEMBANGAN EKSPOR PRODUK KELAUTAN INDONESIA KE EROPA Achmad Fahrudinl Abstract The opportunity to Increase the export volume of Southeast and East Author: Sugiarto Sanjaya. 3 downloads 165 Views 319KB Size. Report. DOWNLOAD PDF. Recommend Documents. LANGKAH DAN STRATEGI EKSPOR KE UNI EROPA: PRODUK UDANG .
Adapunusaha-usaha (upaya-upaya) pemerintah Indonesia dalam pelestarian (konservasi) keanekaragaman hayati antara lain sebagai berikut: 1. Taman Nasional, merupakan kawasan konservasi alam dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan.
Tabel7.1. . Perkembangan bioteknologi konvensional tidak hanya terjadi pada. teknologi pengolahan pangan, seperti pembuatan minuman beralkohol. (bir, anggur) dan makanan (roti, keju). Akan tetapi, berkembang hingga. pada aspek kesehatan, pemuliaan tanaman, dan peternakan. Berikut ini.
RuangLingkup Biologi. Oleh Eggi Aunur R. Juli 20, 2020 Posting Komentar 0 x. 1. Objek Biologi. Biologi berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu 'bios' dan 'logos' yang artinya 'hidup' dan 'ilmu'. Jadi secara sederhana Biologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang hidup. Pengertian ini kemudian berkembang dan disempurnakan
Sebagaibentuk seni, batik memang berkaitan erat dengan kondisi sosial budaya. Sebagaimana diungkapkan Janet Wolff (1981) bahwa seni merupakan produksi sosial. Di dalam produksi seni terkandung ideologi. Karya seni dalam kutub individual dan kolektif. Karena itu dengan tegas Wolff menyatakan bahwa seniman berkarya tidak dalam suasana terioslasi
4 Beberapa jenis tanaman tropis yang berkhasiat obat dan banyak digunakan untuk perawatan natural hanya bisa tumbuh di daerah tropis Indonesia. Tantangan Pengembangan Tumbuhan Obat Beberapa tantangan yang mendorong untuk segera dilakukan pengembangan budidaya tumbuhan obat dan kosmetika di Indo¬nesia adalah sebagai berikut: 1.
Metro Industri kelautan dan perikanan di Kota Padang memiliki potensi dan peluang untuk dikembangkan. Hal itu didukung sumber daya alam, seperti ketersediaan ikan yang cukup besar, area melaut yang dekat serta kondisi perairan yang mendukung. Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah memaparkan hal tersebut dalam Seminar Nasional bertema meningkatkan Industri Kelautan dan Perikanan
ZonaPasarFashion Trends and Culture. Advetorial. Ekonomi Bisnis
ResearchRepository of PUSPIJAK adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim di Indonesia. Pusat Penelitian ini berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. berbagai temuan dan pembelajaran mengenai bagaimana perkembangan usaha kayu komersial skala kecil (CBCF) di Indonesia
eVDQI. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia baik dalam ukuran maupun populasi, Indonesia sangat bergantung pada sumber daya laut untuk makanan, mata pencaharian, dan nilai-nilai budaya. Lautan Indonesia adalah rumah dari terumbu karang dan mangrove terbesar di dunia dan salah satu produsen makanan laut terbesar di dunia. Masyarakat pesisir merupakan ujung tombak sektor kelautan dan perikanan Indonesia, dengan sekitar 80% tangkapan makanan laut diproduksi oleh sektor perikanan skala kecil. Gangguan pada sektor kelautan dan perikanan akan berdampak terhadap jutaan mata pencaharian, ketahanan pangan, dan ekonomi Indonesia. COVID-19 bukanlah satu-satunya gangguan. Ke depan, akan ada banyak gangguan dan krisis lain, termasuk ancaman global perubahan iklim, di antaranya kenaikan muka air laut hingga 0,46 meter yang dapat menyebabkan hilangnya pulau-pulau dan tempat tinggal masyarakat pesisir serta degradasi terumbu karang hingga 99% yang dapat mengakibatkan hilangnya habitat ikan dan objek wisata, mengancam ketahanan pangan dan sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Sektor Kelautan dan Perikanan Pembatasan sosial skala besar yang diberlakukan di beberapa daerah untuk memutus rantai penyebaran virus telah mengganggu aktivitas produksi makanan laut, termasuk kegiatan melaut dan budi daya. Sebagai contoh, nelayan di Jakarta Utara tidak dapat melakukan aktivitas penangkapan ikan, sehingga berdampak pada pendapatan mereka. Selain dari sisi produksi, proses distribusi dan pemasaran makanan laut pun tersendat. Mayoritas pasar tradisional ditiadakan untuk menghindari interaksi tatap muka. Tutupnya rumah makan dan penginapan serta pembatasan sosial di negara tujuan ekspor berakibat pada turunnya permintaan komoditas makanan laut. Belum lagi sebagian besar komoditas hasil laut tidak bertahan lama, sehingga banyak yang terbuang. Dengan melimpahnya pasokan dan waktu simpan yang singkat, harga komoditas makanan laut turun hingga 50%, menurunkan penghasilan nelayan. Tidak hanya komoditas makanan laut, kegiatan wisata bahari juga terkena dampaknya. Bali sebagai salah satu destinasi wisata bahari utama di Indonesia mengalami penurunan pengunjung penginapan hingga 60-80%. Akibatnya, banyak pengusaha pariwisata skala kecil dan medium yang pendapatannya menurun tajam. Dengan memahami peran penting sektor kelautan dan perikanan terhadap pasokan pangan, pendapatan masyarakat, dan penopang perekonomian negara, sektor kelautan dan perikanan memerlukan sebuah transformasi sistem yang dapat menciptakan ketangguhan, terutama saat krisis terjadi. Pandemi ini memberikan kesempatan untuk memperbaiki sistem yang selama ini berjalan dan mengubahnya dengan pendekatan yang lebih keberlanjutan untuk membangun sektor kelautan dan perikanan yang lebih Tangguh Build Back Better. 1. Menurunkan emisi dari kegiatan kelautan dan perikanan Selain sebagai sumber emisi terbesar dalam kegiatan perikanan tangkap, bahan bakar minyak BBM juga mengeluarkan biaya operasional terbesar. Industri perikanan skala besar menghabiskan biaya hingga 60% dan nelayan tradisonal menghabiskan 30-50% biaya untuk BBM. Oleh karena itu, konsumsi BBM kapal dapat dikurangi, di antaranya dengan mengurangi kecepatan kapal, menjaga agar lambung serta baling-baling bebas dari kotoran bawah air, dan mengurangi waktu jelajah. Di wilayah tropis, konsumsi BBM dapat naik sebesar 7%/bulan jika lambung kapal tidak terjaga kebersihannya. Selain itu, pemasangan alat deteksi fishfinder dapat mengurangi waktu jelajah, sehingga mengurangi konsumsi BBM. Penggantian BBM dengan bahan bakar alternatif seperti gas alam cair, tenaga angin, dan energi matahari dapat juga dilakukan untuk mengurangi emisi. Pada tahun 2019, Kementerian Ristekdikti menguji pemasangan Converter Kit Diesel Dual Fuel’ untuk kapal diatas 30GT, yang memungkinkan penggabungan solar diesel dengan bahan bakar gas sehingga dapat menghemat bahan bakar hingga 35%. Selain itu, penggunaan panel surya sebagai energi penerangan ketika melaut telah diadopsi oleh nelayan di Pantai Utara Jawa. Prototipe mesin perahu motor tempel bertenaga matahari juga telah diujicobakan. 2. Insentif finansial untuk perbaikan tata kelola sumber daya pesisir Insentif fiskal dapat diberikan pada kawasan yang berhasil melakukan konservasi dan pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan. Secara praktis, pemberian insentif dapat diberikan kepada kawasan konservasi perairan laut KKPL berdasarkan kriteria pada Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil E-KKP3K. Insentif ini dapat mendorong pengelola untuk kian memperbaiki pengelolaan kawasan sembari memberi suntikan dana bagi kawasan dan masyarakat yang telah mencapai kriteria pengelolaan tertentu. 3. Inovasi digital untuk membantu produksi dan distribusi makanan laut Selain itu, inovasi berupa pasar digital, yang berisi informasi mengenai jenis dan harga ikan, menjadi inovasi kunci untuk menyambungkan produsen/penjual dengan pembeli. Pasar digital tidak hanya memperluas jangkauan pasar tetapi juga mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan akibat hasil tangkapan laut yang tidak bertahan lama. Kini, terdapat beberapa start-up digital yang menyambungkan ikan hasil tangkapan kepada konsumen melalui sebuah aplikasi, baik untuk pasar domestik yaitu menyambungkan langsung nelayan/pembudidaya lokal dengan konsumen di kota besar, maupun menyambungkan hasil tangkapan dengan pasar ekspor. 4. Menjadikan valuasi ekonomi sebagai instrumen pengelolaan ekosistem pesisir dan laut Ekosistem pesisir dan laut yang sehat adalah kunci bagi rantai makanan biota laut dan merupakan daya tarik pariwisata bahari. Valuasi ekonomi, atau menghitung nilai ekonomi atas jasa lingkungan ekosistem pesisir, dapat menjadi salah satu instrumen pengelolaan ekosistem pesisir dan laut. Contoh penerapannya secara praktis yaitu menggunakan valuasi untuk menentukan harga tiket masuk lokasi pariwisata bahari. Dengan memperhitungkan jasa lingkungan, pengelola dapat menentukan peningkatan tarif seperti yang diterapkan di taman nasional di Belanda serta dapat menentukan kuota pengunjung per suatu waktu. Selain itu, valuasi juga menghasilkan analisis biaya dan manfaat dalam evaluasi alokasi ruang pesisir dan menjadi masukan terhadap Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Ketangguhan pada sektor kelautan dan perikanan perlu dibentuk karena setiap gangguan yang terjadi berdampak pada jutaan mata pencaharian masyarakat, ketahanan pangan, dan ekonomi. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk mengarahkan pemulihan pascapandemi kepada pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, serta pengelolaan laut dan sumberdayanya secara berkelanjutan.
JAKARTA – Kamar Dagang Indonesia Kadin dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas gelar focus group discussion FGD bahas rancangan teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RPJMN 2020-2024 soal industri kelautan dan perikanan tersebut digelar di kantor Bappenas, Jakarta, pada Rabu 14/11/2018. Kesiapan sektor industri kelautan dan perikanan menjelang revolusi industri menjadi fokus utama dalam diskusi Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto menjelaskan pengembangan industri kelautan dan perikanan harus fokus pada kualitas sumber daya manusia SDM serta penerapan teknologi dan inovasi. Tantangan revolusi industri menurutnya menuntut perkembangan teknologi yang disertai SDM yang mampu pun mengharapkan adanya peningkatan investasi dan dukungan regulasi yang mendukung iklim industri kelautan dan perikanan. Forum tersebut menurut Yugi dapat menjadi wadah para stakeholder untuk menyampaikan masukan, khususnya terkait regulasi yang dapat menjadi pertimbangan Bappenas dalam menyusun RPJMN. Untuk mendukung industri kelautan dan perikanan, pemerintah dinilai perlu menitikberatkan peningkatan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya. Selain itu, penyediaan bahan baku, penyediaan logistik, peningkatan devisa, penyerapan tenaga kerja, dan keberlangsungan lingkungan hidup menurut Yugi turut harus digaris bawahi."Setelah acara ini akan bikin tim kecil, Kadin dan Bappenas untuk mengolah data dan hasil FGD. Strategi [pengembangan] perikanan harus fokus dan terukur," ujar Yugi kepada Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Bappenas, Arifin Rudiyanto, masukan-masukan yang didapat dari FGD tersebut dan RPJMN yang dihasilkan harus diintegrasikan dengan program pemerintahan selanjutnya. Arifin mewanti-wanti agar program pengembangan industri tersebut tidak terputus usai pemilihan presiden."Ini [RPJMN] harus diintegrasikan dengan program presiden terpilih. Pelaksanaan pembangunan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan," ujar Arifin kepada sektor kelautan dan perikanan Indonesia yang melimpah menurut Yugi jangan sampai disia-siakan karena pengembangan yang kurang maksimal. Yugi menjelaskan Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi perikanan meningkat 20% per tahun. Food and Agriculture Organization FAO memperkirakan pasar makanan hasil laut secara global akan mencapai 240 juta ton pada 2024, di mana 160 juta ton di antaranya merupakan perikanan mencapai target tersebut, Yugi menilai kerja sama dengan pihak industri serta sinergi pemerintah dengan akademisi sangat diperlukan. Menurutnya, inovasi kelautan dan perikanan menjadi tuntutan utama dalam menuju industri Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Konten Premium Nikmati Konten Premium Untuk Informasi Yang Lebih Dalam
TOKOHKITA. Potensi produksi lestari akuakultur Indonesia sekitar 100 juta ton per tahun. Namun, potensi produksi lestari tersebut ada batasnya, sesuai dengan daya dukung lingkungan mikro kolam maupun makro kawasan. Maka, pada titik inilah, bioteknologi kelautan mampu melipatgandakan produktivitas usaha akuakultur. Demikian disampaikan Rokhmin Dahuri, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, saat saat menjadi narasumber Seminar “Blue Biotechnology dalam Pengembangan Ekonomi Biru Indonesia,” yang dilaksanakan Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Badan Riset SDM Kelautan dan Perikanan BBRP2BKP secara daring, Senin 28/6/2021.Menurut Rokhmin, peningkatan volume produksi ikan untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, dapat dilakukan melalui pengembangan perikanan budidaya akuakultur dan bioteknologi kelautan marine biotechnology.Dengan bioteknologi kelautan, ikan dan biota laut lainnya tidak hanya bermanfaat sebagai bahan pangan khususnya protein hewani, tetapi juga dapat diekstrak senyawa bioaktif bioactive compound-nya sebagai bahan baku untuk industri farmasi, functional foods, kosmetik, cat, film, bioenergy, dan berbagai macam jenis industri lainnya. "Dengan bioteknologi kelautan melalui teknik bioremediasi dapat mengatasi atau memulihkan ekosistem perairan yang tercemar," terang Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan memaparkan sumber industri bioteknologi kelautan IBT adalah keanekaragaman hayati laut. Karena Indonesia memiliki marine biodiversity terbesar di dunia, maka mestinya Indonesia lah sebagai produsen IBT terbesar nomor satu di dunia."Namun, hingga kini IBT Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara dengan potensi bioteknologi kelautan yang jauh lebih kecil, seperti Malaysia, Thailand, China, Korea Selatan, dan Australia," berkembangnya IBT di dalam negeri karena masih menghadapi banyak permasalahan dan tantangan. Pertama, pada umumnya, R & D bioteknologi kelautan perlu waktu lama sekitar 5– 10 tahun dan biaya relatif mahal untuk menghasilkan produk farmasi, kosmetik, bioenergy, spesies unggul, microba untuk bioremediasi, dan sebagian besar sektor swasta industri kurang atau tidak memiliki jiwa nasionalisme, sehingga mereka lebih senang membeli produk teknologi impor dari pada mengembangkan scaling up dari hasil penelitian pada tahap invention prototipe menjadi produk teknologi komersial innovation. "Masih ada persepsi negatif tentang produk bioteknologi kelautan, yang dikhawatirkan membahayakan organisme lain dan ekosistem alam," jelas sisi lain, ekosistem inovasi, khususnya untuk IBK belum terwujud akibat SDM peneliti dan perekayasa yang minim. Kemudian, prasarana dan sarana R & D, anggaran insentif dan disinsentif, kebijakan politik–ekonomi, yang belum baik. Sehingga, linkages antar sub-sistem tersebut juga belum terwujud. Untuk menjawab persoalan tersebut, Rokhmin pun menyodorkan strategi pengembangan industri bioteknologi kelautan di Indonesia. Pertama, evitalisasi industri bioteknologi kelautan existing. Kedua, pengembangan industri pakan feed berbasis microalgae dan biota laut lainnya. Ketiga, pengembangan industri functional food healthy food & beverages, farmasi, dan kosmetik berbasis macroalgae rumput laut, microalgae, chitin and chitosan, dan sisik atau kulit ikan. Keempat, pengembangan biofuel berbasis microalgae. Kelima, genetic engineering untuk menghasilkan induk dan benih ikan, udang, kepiting, moluska, rumput laut, tanaman pangan, dan biota lainnya yang unggul.